Header Ads

KH Said Aqil Siroj, Sosok Ulama dan Akademisi yang Dua Periode Memimpin PBNU

KH Said Aqil Siroj, Sosok Ulama dan Akademisi yang Dua Periode Memimpin PBNU

PCNUALOR.OR.ID – Perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) di era modern mencatat kiprah penting Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, M.A., yang dipercaya memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama dua periode, yakni 2010–2015 dan 2015–2021.

Kiai Said Aqil Siroj pertama kali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32 NU yang berlangsung di Makassar pada Maret 2010. Dalam pemilihan tersebut, ia memperoleh 294 suara dan mengungguli KH Slamet Effendy Yusuf.

Di awal kepemimpinannya, Kiai Said menempatkan penguatan kemandirian organisasi, pendidikan, dan peningkatan pelayanan kepada umat sebagai bagian penting dari agenda kepemimpinan PBNU.

Lima tahun kemudian, kepercayaan kembali diberikan kepadanya. Dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang pada Agustus 2015, Kiai Said kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU setelah memperoleh 287 suara.

Pada periode keduanya, perhatian PBNU di bawah kepemimpinannya antara lain diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan layanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi warga Nahdliyin. Pada saat yang sama, Kiai Said juga aktif membawa gagasan Islam Nusantara ke ruang diskusi nasional maupun internasional.

Dari Pesantren hingga Pendidikan Tinggi di Tanah Suci

Kiprah Kiai Said Aqil Siroj tidak dapat dilepaskan dari latar belakang pendidikan pesantren yang kuat. Ia lahir di Desa Kempek, Cirebon, pada 3 Juli 1953.

Pendidikan keagamaannya ditempa sejak usia muda di lingkungan pesantren. Ia belajar di Pesantren Kempek yang diasuh ayahandanya, KH Aqil Siroj, kemudian melanjutkan pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Pengembaraan intelektualnya kemudian berlanjut ke Arab Saudi. Selama kurang lebih 14 tahun bermukim di Makkah, Kiai Said menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral di Universitas King Abdul Aziz dan Universitas Ummul Qura.

Perjalanan pendidikan tersebut membentuk karakter keilmuan Kiai Said sebagai sosok yang memadukan tradisi intelektual pesantren dengan wawasan akademik dan pengalaman keislaman internasional.


Kedekatan dengan Gus Dur dan Kiprah di NU

Keterlibatan Kiai Said Aqil Siroj dalam perjalanan kepemimpinan NU juga memiliki kaitan erat dengan kedekatannya dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ketika keduanya berada di Tanah Suci.

Dari lingkungan tersebut, kiprah Kiai Said dalam organisasi NU semakin berkembang. Ia kemudian dipercaya mengemban berbagai amanah hingga akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-32 NU di Makassar.

Selama memimpin PBNU, Kiai Said dikenal aktif menyampaikan gagasan mengenai Islam yang moderat, toleran, dan memiliki akar kuat pada tradisi keislaman Nusantara.

Gagasan Islam Nusantara menjadi salah satu tema yang banyak dibicarakan selama periode kepemimpinannya. Konsep tersebut ditempatkan dalam konteks keberagamaan masyarakat Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan Islam melalui pendekatan budaya, pendidikan, dakwah, dan tradisi pesantren.

Estafet Kepemimpinan NU

Kepemimpinan Kiai Said Aqil Siroj sebagai Ketua Umum PBNU berakhir pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021. Muktamar tersebut kemudian melahirkan kepemimpinan baru dengan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU.

Berakhirnya masa khidmah sebagai Ketua Umum PBNU tidak mengakhiri kiprah Kiai Said dalam dakwah dan pengembangan pemikiran Islam. Ia tetap dikenal sebagai salah satu ulama yang aktif menyampaikan gagasan mengenai keislaman, kebangsaan, toleransi, serta pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perjalanan Kiai Said Aqil Siroj menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah NU kontemporer. Dua periode kepemimpinannya memperlihatkan bagaimana tradisi pesantren, pendidikan tinggi, pemikiran Islam, dan dinamika organisasi dapat berjalan beriringan dalam menghadapi perkembangan zaman.

Menyambut Muktamar ke-35 NU di Tambakberas

Profil KH Said Aqil Siroj ini merupakan bagian dari serial “Ketua Umum dan Rais Aam PBNU dari Masa ke Masa” yang disajikan sebagai upaya mengenalkan kembali perjalanan sejarah kepemimpinan Nahdlatul Ulama.

Serial tersebut secara khusus dihadirkan dalam rangka menyambut Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, dengan menghadirkan rekam jejak para ulama dan tokoh yang pernah menerima amanah dalam kepemimpinan tertinggi jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Melalui pengenalan terhadap sejarah dan kiprah para pemimpin NU, generasi Nahdliyin diharapkan dapat memahami bahwa perjalanan jam'iyah tidak hanya dibangun oleh keputusan organisasi, tetapi juga oleh keteladanan, keilmuan, pengabdian, dan keikhlasan para ulama dalam merawat umat dan bangsa.

Kisah KH Said Aqil Siroj menjadi salah satu catatan penting bahwa amanah kepemimpinan pada akhirnya akan berganti, tetapi khidmah kepada umat, dakwah, ilmu, dan bangsa merupakan pengabdian yang tidak mengenal batas masa jabatan.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.